Tangis Terindah dan Cincin Kenangan

by Humas PKS Jakarta

OphiePKS JAKARTA – Bila ditanya, dimanakah aku pernah menangis dengan teramat indah? Tentu jawabannya adalah sore itu. Suatu sore dimana bukan hanya pelupuk mata ini yang tergenang, melainkan tangis dengan hati yang teramat luruh akan kesadaran diri, bahwa kontribusi untuk Dien Allah swt yang mulia teramat kecil. Tangis yang memang tak kurangkai sendiri, melainkan tangis cinta dan kesaksian bahwa kebersamaan kami teramat indah.

Sore itu di hari Rabu. Kami, segenap Calon Anggota Dewan (CAD) dari Partai Keadilan Sejahtera di Kecamatan Mandau dan Pinggir mendapatkan undangan untuk pertemuan tertutup dari Sekum DPD PKS Bengkalis Ustadz Nibukat Zaradan. Pembahasannya tak lain soal kampanye di Kabupaten Bengkalis, khususnya di Kota Duri. Apakah akan diadakan kampanye akbar dengan pengerahan massa, atau tidak sama sekali.

Kisah semangat dan heroisme kader PKS di Jakarta sejatinya menular dalam jiwa-jiwa kami. Kami ingin juga, meski tak serupa, namun setidaknya perkiraan 10.000 massa PKS teramat cukup untuk memutihkan Kota Duri ini. Hampir serentak, segenap CAD mengatakan “Ya! kita gelar kampanye akbar”. Namun ternyata, keadaannya tak semudah itu. Rencana Anggara yang ditampilkan Ustadz Nibukat membuat ruangan mendadak hening.

“Duhai Allah, kami ingin syair dakwah ini bergaung di Negeri Junjungan ini. Tapi… ” aku membatin perih.

Kami insyafi betul. Ini ladang amal yang terbentang. Seruan kehormatan untuk memenangkan dakwah ini. Sekali lagi, namun…

“Ya. Tak kurang dari “sekian”. Bagaimana?” Ustadz Nibukat bergumam lirih.

Kami masih terpaku. Perih bergelayut dalam benak ini. Ingin rasanya berkorban lebih banyak lagi untuk dakwah ini. Namun apa hendak dikata, kondisi keuangan kami tidak lah semuanya baik. Bahkan beberapa diantaranya pas-pasan bahkan sekedar untuk membiayai kehidupan keluarga. Kami ingin berinfaq. Ingin…. bahkan teramat ingin!

O, betapa sesaknya dada ini ketika perjuangan tak yang kami hadapi terbentur urusan pendanaan. Diam. Seolah satu sama lain serentak berbagi degup jantung.

Dalam hening yang memanjang, salah seorang dari kami akhirnya memecah kebuntuan.

“Saya sudah tak punya uang, tapi saya masih punya 2 cincin kenangan ini. Kalau diuangkan mungkin dapat 2,5 juta,” ungkap Bu Gusleni sembari melepas kedua cincin dari jemarinya.

Keadaaan pun hening, sebagian menyusut air mata. Waktu seolah tiba-tiba berhenti. Tak tahu harus mengatakan atau bereaksi apa. Hanya dada yang mulai naik turun karena menahan rasa haru.

“Sudah begini, karena cincin itu kan kenangan, gini saja cincin itu biar kami beli. Cincinnya silahkan Ibu ambil,” ungkap dr. Fidel Fuadi yang akrab disapa Pak Datuk ini.

“Nggak Pak, saya ingin sekali bisa berkontribusi, tapi saya punyanya cuma itu.” Bu Gusleni tetap dengan pendiriannya.

Semua terdiam. Larut dalam keharuan yang teramat dalam.

“Saya mengerti, Bu. Insya Allah niat ibu sudah sampai kepada Allah swt, namun bagaimanapun itu kan cincin kenangan,” timpal Dokter senior berdarah Minang itu.

Sebagian kami justru makin tak tahan untuk membiarkan mata kami tetap kering. Sebagian ummahat menyusut sudut matanya dengan jilbab. Mencoba menetralisir nafas yang sudah semakin naik turun karena perasaan haru.

Duhai Allah…kurasakan begitu besar kecintaan pada dakwah yang ada di dalam dada saudara-saudara kami sesama CAD. Termasuk kecintaan saudara yang satu pada saudara yang lain. Inilah keadaannya. Kalau diuntai satu kata, maka itulah cinta, inilah ketulusan dan inilah kejujuran kami ya Allah. Hamba-hambaMu yang tertatih ingin menegakkan izzah Islam di Bumi Lancang Kuning.

Yang ingin menegakkan marwah bangsa ini agar tak terus tergerus otak materialisme. Kalau semua yang punya nurani mau jujur, maka hanya di partai dakwah inilah kejadian ini terjadi. Dimana satu dengan yang lain saling membahu memenangkan dakwah ini, bukan memenangkan orang per orang.

Itulah tangis kami. Tangis yang ingin bekalkan untuk anak cucu kami. Tangis tentang kebersamaan, keindahan perjuangan dan persaudaraan, tentang perngharapan akan ridha Allah swt. Tangis tentang harap, suatu ketika akan bertemu di Jannah kelak. Aamiin. )I(

Dikisahkan oleh Diah Novi Wulandari, S.Sos
(CAD No.4 Dapil Mandau B Kabupaten bengkalis)

Related Posts