Jakarta Ditantang Bangun Bandara, Begini Respon DPRD

by Humas PKS Jakarta

Jakarta – Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS Abdul Aziz mengatakan, Jakarta tidak memenuhi syarat untuk memiliki bandar udara (Bandara) sendiri.

Hal ini disampaikan untuk merespon usulan pengamat transportasi Jim Lomen Sihombing yang menantang Pemprov DKI agar membangun Bandara di Cilincing, Jakarta Utara, untuk menambah nilai ekonomi Jakarta dan melengkapi sarana moda transportasi yang telah ada.

“Bandara tidak boleh di tengah kota, karena itu dipindahkan dari Kemayoran,” kata Aziz melalui pesan WhatsApp, Rabu (4/11/2020).

Selain hal tersebut, menurut politisi PKS ini, banyak syarat yang harus dipenuhi untuk membuat Bandara, mulai dari Amdal, harus jauh dari perumahan penduduk, dan lain-lain.

“Jadi, harus ada kajian yang komprehensif,” tegasnya.

Sebelumnya, pengamat transportasi Jim Lomen Sihombing menantang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengusulkan pembangunan bandara di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, kepada pemerintah pusat, karena menurut dia, pembangunan Bandara tak hanya akan meningkatkan nilai ekonomis Jakarta sebagai kota jasa, namun juga sebagai bentuk pelayanan publik di bidang transportasi.

“Jakarta itu ibukota Indonesia. Maka, sudah selayaknya Jakarta memiliki sarana dan prasarana yang memadai dan yang dapat memudahkan mobilitas warganya,” kata Jim di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, selama ini Jakarta kurang berinovasi dalam menyediakan layanan publik di bidang transportasi, sehingga masalah bandara seolah luput dari perhatian.

Padahal, kata dia, bagi sebuah kota jasa, peran bandara sangat dibutuhkan karena dapat menjadi pintu masuk wisatawan dan bisnis di bidang cargo.

Selama ini, jelas Jim, jika warga Jakarta ingin ke daerah atau provinsi lain, juga keluar negeri, mereka harus ke Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten. Begitupula dengan pengusaha yang ingin mengirim barang dengan pesawat, sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar.

“Kalau Jakarta memiliki bandara, cost bisa dipangkas 30-40% dan warga pun tak perlu jauh-jauh ke Tangerang, sehingga bisa hemat waktu dan tenaga,” katanya.

Karena hal tersebut, Jim menantang Gubernur Anies Baswedan untuk mengusulkan kepada pemerintah agar diizinkan membangun bandara.

Ketika ditanya dimana bandara akan dibangun mengingat lahan di Jakarta sudah sangat terbatas? Alumnus Universitas Trisakti ini menyebut nama Cilincing, Jakarta Utara.

“Wilayah itu sangat strategis karena berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok, kawasan industri KBN (Kawasan Berikat Nusantara), kawasan pergudangan dan dekat dengan jalan tol,” imbuh Jim.

Menurut dia, kekurangan lahan untuk bandara di Cilincing dapat disiasati dengan mereklamasi pantai ke arah laut sebagaimana dulu Bandara I Ngurah Rai, Bali, dibangun.

“Tak usah membuat bandara berskala internasional, cukup bandara domestik atau bandara dengan luas minimal 15 hektare. Jika telah berkembang, baru kelasnya ditingkatkan,” jelas dia.

Pengamat yang tinggal di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, itu menilai, jika pembangunan bandara terealisasi, dalam 5-10 tahun pendapatan Jakarta akan naik puluhan kali lipat.

Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat, diresmikan pada 8 Juli 1940, dan merupakan Bandara pertama di Indonesia yang melayani penerbangan internasional resmi dibuka.

Bandara ini memiliki dua landasan pacu yang bersilangan, yakni landasan pacu utara-selatan dengan panjang 2.475 x 45 meter dan landasan pacu barat-timur dengan panjang 1.850 x 30 meter.

Pada 1960 pengelolaan Bandara Kemayoran diserahkan kepada BUMN yang kini bernama Perum Angkasa Pura I.

Di masa pemerintahan Soeharto, Bandara Kemayoran semakin ramai. Pada periode 1970-1980-an, frekuensi penerbangan tembus hingga 100 ribu pesawat setiap tahunnya. Hal itu mengakibatkan pemerintah kewalahan.

Saking sibuknya, pemerintah sempat memindahkan penerbangan internasional ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sehingga Bandara Kemayoran hanya melayani penerbangan domestik.

Bersamaan dengan itu, pemerintah mulai membangun bandara baru di Cengkareng dengan nama Bandara Seokarno-Hatta yang mulai beroperasi pada 1 Mei 1985.

Tiga bulan sebelum Bandara Seokarno-Hatta dibuka, Bandara Kemayoran perlahan mulai ditutup, dan pada 31 Maret 1985 pukul 00:00 WIB atau setelah 45 tahun beroperasi, bandara ini resmi berhenti beroperasi untuk selama-lamanya.

Alasan lain ditutupnya Bandara Kemayoran dikarenakan dianggap sudah tak layak lagi beroperasi karena letaknya di tengah kota dan kebutuhan pembangunan wilayah Jakarta Utara yang sangat tinggi.

Masalah keselamatan penerbangan juga menjadi faktor lain penutupan Bandara Kemayoran. Jarak landasan udara Bandara Kemayoran yang menyilang, juga berdekatan antara Bandara Seokarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma.

Saat ini, Bandara Kemayoran dapat dikenang melalui Jalan Benyamin Syueb dan Jalan HBR Motik yang dahulunya merupakan landasan pacu Bandara Kemayoran. Hingga saat ini juga masih beridiri sebuah menara berupa Air Traffic Control (ATC) bandara tersebut.

Kini kawasan tersebut berubah menjadi pusat bisnis dan permukiman. Beberapa hotel berbintang, pekantoran, pusat niaga dan perbelanjaan internasional juga dibangun di kawasan itu.

 

Sumber: Dekannews

 

Related Posts