Fahri: PKS Tak Akan Koalisi Jika Presidennya Hanya Modal Cengar-Cengir

by Humas PKS Jakarta

a_-RAPAT-KONSULTASI-Ketua-Mahkamah-Konstitusi-MK-Mahfud-MD-kiri-dan-Wakil-Ketua-Komisi-III-DPR-Fahri-Hamzah-kanan-memimpin-rapat-konsultasi-antara-MK-dan-Komisi-III-DPR-di-gedung-MK-Jakarta-Senin-30_5-1024x583-300x150PKS JAKARTA – Wakil Sekjen PKS, Fahri Hamzah, menegaskan partainya tidak akan asal ikut-ikutan seperti partai lainnya yang mencari-cari pasangan koalisi untuk membentuk pemerintahan mendatang.PKS menurutnya telah belajar dari pengalaman masa transisi sejak 1998 dimana koalisi selalu gagal dalam praktek pelaksanaannya.

“PKS saat ini sedang menyiapkan konsep koalisi yang baik dan benar dan sesuai dengan sistem pemerintahan yang ada. Sebab selama pemerintahan transisi ini semua koalisinya gagal,mulai dari era Gus Dur, Megawati, SBY tahap 1 dan SBY tahap 2, semuanya gagal.Oleh karena itu kami tidak mau ikut-ikutan mencari partner koalisi sebelum jelas konsep koalisinya,” ujar Fahri ketika dihubungi wartawan, Senin (14/4).

Oleh karena itu menurut Fahri partainya belum menggalang pertemuan dengan partai manapun karena PKS tidak akan menemui mereka kalau partai yang mengundang PKS untuk berkoalisi belum menjabarkan konsep koalisi mereka.”Saat ini kami masih fokus untuk perhitungan suara saja dan menjaga suara kami tetap utuh,” tambahnya.

Pentingnya konsep koalisi ini menurut Fahri karena tanpa konsep maka rencana membangun pemerintahan menjadi tidak jelas. Koalisi menurutnya harus bisa mensiasati masalah yang secara teoritis akan selalu menghantui pembentukan pemerintahan koalisi yaitu anomali sistem presidensial dan multi partai.

“Sistem di Indonesia itu anomali karena kalau kita memilih sistem presidensil harusnya kan hanya ada dua partai atau maksimal tiga. Sistem multi partai seharusnya kan hanya ada dalam sistem parlementer.Dengan sistem ini dan kondisi saat ini, tanpa disiasati maka siapapun presiden yang berkuasa akan menghadapi kondisi instabilitas yang sifatnya permanen ini. Nah sayangnya tidak ada satupun partai yang berbicara mengenai bagaimana cara mensiasati ini,” imbuhnya.

Fahri pun membandingkan kondisi ini dengan anak ABG yang hanya memikirkan percumbuannya saja dalam perkawinan, tanpa memikirkan tanggungjawab dalam ikatan perkawinan baik terhadap pasangan itu sendiri, masyarakat, keluarga dan sebagainya.Rumah tangga yang memiliki konsep dan matang, tentunya akan lebih harmonis.Rumahtangga tidak seharusnya dibangun hanya atas dasar nafsu saja.

”Yah kalau mau kawin yang hanya memikirkan percumbuannya saja itu sama saja kita seperti anak ABG dan tidak dewasa.Setiap pasangan yang kawin kan harus mengerti konsekuensi dari perkawinan itu.Itu yang kita inginkan agar perkawinan atau koalisi itu bisa seperti perkawinan yang dengan niat yang baik dan matang,” tegasnya.

PKS sendiri memikirkan dengan tegas dua opsi yaitu memimpin koalisi atau menjadi oposisi sekalian. Ini karena PKS menurut Fahri tidak mau menjadi korban lagi.”Kami selalu dituduh menjadi biang kerok dalam koalisi, padahal kami ini korban dari sistem koalisi yang tidak dipimpin secara baik,” tegasnya.

Koalisi yang terbangun menurut Fahri seharusnya adalah koalisi beneran yang sejak awal sudah menyepakati bersama-sama apapun yang terkait pemerintahan yang dijalankan bersama.”Koalisi ini kan dari awal kami dikhianati. Pimpinan koalisi, SBY misalnya tidak pernah mengajak kami berbicara mengenai pilihan cawapres Boediono pada pilpres lalu.Dia diajukan tanpa berbicara dengan.Belum lagi partai-partai yang menjadi lawan kita semua diundang masuk dalam koalisi.
Ini koalisi macam apa?,” ujar Fahri menjelaskan.

PKS tidak mau lagi menjadi bagian koalisi terutama jika presidennya hanya punya modal cengar cengir atau modal ngotot tanpa konsep.

http://poskotanews.com/2014/04/14/fahri-pks-tak-akan-koalisi-jika-presidennya-hanya-modal-cengar-cengir/

Related Posts