Antusias Warga Datangi Taman Baca PKS Jagakarsa

by Humas PKS Jakarta

Minggu (17/4), selepas gerimis pagi, Rumah Keluarga Indonesia kelurahan Jagakarsa melakukan launcing Tamam Baca di Taman Spatoe Dea Jagakarsa. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua DPRa PKS Jagakarsa, Rahmat Akmal. Taman baca ini bertujuan menularkan kebiasaan membaca, khususnya bagi anak-anak dan orang tua, harapannya setelah berolahraga di pagi hari mereka mampir untuk membaca. Bermacam-macam buku cerita dan majalah tersedia sebagai bahan bacaan.

Pada pembukaan kali ini, orang tua dan anak2 cukup antusias menyambut kehadiran taman baca ini, bahkan ada orang tua yang langsung membacakan sambil mendongeng cerita dari buku bacaan yang dibaca kepada anaknya. Terharu melihat antusiasme anak-anak yang doyan membaca buku ketika soft lauching Taman Baca ini. Mereka ternyata haus akan bacaan yang berkualitas. Semoga PKS Jagakarsa bisa tetap menjaga semangat mereka dalam menyelami informasi ilmu. Ketua DPRa PKS Jagakarsa berharap, “Semoga taman baca ini konsisten hadir di setiap ahad pagi. Sehingga akses anak – anak terhadap bahan bacaan bisa dipermudah.”

Gerakan Taman Bacaan merupakan suatu gerakan yang bisa dipelopori oleh siapa saja, bukan hanya PKS. Apalagi pemerintah, tidak boleh absen dengan gerakan ini sedikitpun. Gerakan ini hadir karena keprihatinan atas betapa miskinnya bahan bacaan masyarakat, dan tidak meratanya distribusi buku, semakin mahalnya buku dan buku semakin sulit ditemui. Ini mengakibatkan terjadi kesenjangan pengetahuan di wilayah ini sehingga apa yang disebut Taufiq Ismail sebagai “tragedi nol baca” harus segera kita akhiri. Di Taman Baca semua orang dapat membaca tanpa ada skat perbedaan agama, suku, usia, dan  apa pun di dalamnya.

Gerakan ini lahir juga sebagai kritik sosial atas pemerintah yang kurang memprioritaskan lahirnya generasi ‘gila baca’. Kalau kemiskinan buku ini dibiarkan maka ke depan kafakiran wawasan dan rawan ilmu pengetahuan akan mengancam bangsa ini. Kefakiran wawasan dan pengetahuan ini akan mengakibatkan merosotnya spiritualitas masyarakat sehingga menjadikan masyarakat tidak mampu membaca apa yang sedang terjadi di lingkungan dan di negerinya sendiri. Masyarakat akan menjadi penonton di negerinya sendiri.

Related Posts