AL QUR’AN MEWAJIBKAN KITA MEMILIH PEMIMPIN YANG BERIMAN

by Humas PKS Jakarta

Mengapa setiap Muslim WAJIB memilih dan memperjuangkan Pemimpin yang beriman ?

ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)

Dari ayat diatas Allah ﷻ sebutkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissam adalah sebagai sebaik-baik hamba (pemimpin) dan sesungguhnya ia banyak mendekatkan diri kepada Allah.
نعم العبد انه اواب
Didalam struktur kehidupan masyarakat, baik masyarakat kafir maupun kaum mukminin pasti terdiri dari dua elemen, yakni ada rakyat dan ada pemimpin.

Bagi masyarakat Mukmin (yang sudah beriman). Maka Allah mewajibkan kepada mereka untuk menghadirkan pemimpin yang beriman.

Merupakan suatu pengkhianatan kepada Allah dan RasulNya serta orang yang beriman, jika masyarakat beriman tidak mengusahakan hadirnya pemimpin yang beriman.

Mengapa demikian ?
Karena kepemimpinan dalam pandangan Islam harus memperhatikan urusan Dunia dan Akhirat, halal dan haram, hak dan batil. Serta semua yang diridoi oleh Allah

Kegagalan dalam urusan ini hanya akan menghasilkan kesengsaraan dan penyesalan yang mendalam kelak di Akhirat.

Perhatikan Firman Allah ﷻ QS. Al Ahzab 67 & 68 :

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.

Demikianlah dialoq yang terjadi kelak di Akhirat. Yang menunjukkan urusan antara pemimpin dan rakyatnya akan terbawa sampai kelak dihadapan Allah ﷻ di pengadilan Akhirat kelak.
Adapun gambaran masyarakat Muslim yang ideal seharusnya mampu menghadirkan seorang pemimpin yang oleh Al Qur’an telah disebutkan kwalifikasinya sebagaimana yang Allah ﷻ telah sebutkan dalam ayat-ayat berikut ini :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢْ ﻧَﺒِﻴُّﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻗَﺪْ ﺑَﻌَﺚَ ﻟَﻜُﻢْ ﻃَﺎﻟُﻮﺕَ ﻣَﻠِﻜًﺎ ۚ ﻗَﺎﻟُﻮٓا۟ ﺃَﻧَّﻰٰ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻟَﻪُ ٱﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﭑﻟْﻤُﻠْﻚِ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺆْﺕَ ﺳَﻌَﺔً ﻣِّﻦَ ٱﻟْﻤَﺎﻝِ ۚ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ٱﺻْﻂَﻔَﻰٰﻩُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺯَاﺩَﻩُۥ ﺑَﺴْﻂَﺔً ﻓِﻰ ٱﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻭَٱﻟْﺠِﺴْﻢِ ۖ ﻭَٱﻟﻠَّﻪُ ﻳُﺆْﺗِﻰ ﻣُﻠْﻜَﻪُۥ ﻣَﻦ ﻳَﺸَﺎٓءُ ۚ ﻭَٱﻟﻠَّﻪُ ﻭَٰﺳِﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-Baqarah : 247)

Dari atas diatas telah jelas bagaimana figur seorang yang layak direkomendasikan sebagai pemimpin rakyatnya, yakni :

1. Memiliki keluasan ilmu,

2. Sehat dan Kuat Jasmaninya, dan

3. Memiliki Jiwa Ketaqwaan yang tinggi. (Al Awwab) sebagaimana disebut dalam QS. Shood 30.
Adapun jika masyarakat Muslim melakukan penyimpangan dari manhaj ini, maka Allah ﷻ akan menurunkan bencana berupa hadirnya pemimpin yang dzolim yang selalu berpotensi menyengsarkan rakyatnya.

Demikian sebagaimana makna dari firman Allah ﷻ :

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا
بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.
(QS. Al An’am : 129)
Jika hadirnya pemimpin mukmin yang fasiq saja sudah termasuk bencana, apalagi jika menghadirkan pemimpin kafir lagi fasiq ?

Disinilah tugas kita sebagai Mukmin untuk terlibat aktif memperjuangkan dan mengarahkan masyarakat agar mereka memilih dan mendukung pemimpin yang Mukmin di tengah masyarakatnya, agar terhindar dari murka Allah ﷻ dan bencana yang dihadirkanNya.
Dalam kondisi seperti ini berlaku ( al aqol fal aqol ) artinya jika kita belum mampu menghadirkan pemimpin Muslim dengan standart ideal kw 1, maka kw 2 , kw 3 dst.

Darinya kita akan fahami bahwa kwalitas masyarakat berbanding lurus dengan kwalitas pemimpinnya.

Dan inilah salah satu alasan mengapa kita harus tergerak untuk berjuang dalam mencerdaskan masyarakat kita agar pandai memilih pemimpin.

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
📝 : Ustadz Abdul Aziz Abdur Ra’uf, Lc
حفظه الله تعالى

Related Posts