Tiga Arahan Mardani untuk Tim Advokasi dan Pemenangan Anies-Sandi

Jakarta (1/4) – Ketua Tim Pemenangan Anies Sandi, Mardani Ali Sera ingatkan tiga hal yang harus menjadi fokus Tim Advokasi dan Pengamanan pada pilkada putaran kedua nanti.

Hal ini disampaikan Mardani pada Koordinasi Tim Advokasi dan Pengamanan Anies Sandi tingkat DPC se-Jakarta, di Kantor DPP PKS, MD Building, Jakarta, Minggu (1/4).

“Pertama, pastikan ponsel kalian semua aktif, seperti dokter yang 24 jam on call. Kedua, laporan laporan dan laporan. Dan ketiga, usahakan tindak lanjutnya jelas,” jelas Anggota Komisi II DPR RI ini.

Dari sisi pelayanan, Tim advokasi, tegas Mardani, harus siap dapat dihubungi kapan saja. Bahkan Mardani menambahkan, tim advokasi diharapkan proaktif membangun komunikasi hingga tingkat DPC (kecamatan) dan Dpra (kelurahan). Sehingga melalui komunikasi efektif seperti ini, dapat cepat memberikan solusi ketika terjadi masalah di lapangan.

“Jadi pastikan nomor kalian semua tersebar dan biasakan diri jadi pelayan. Pemimpin suatu kaum itu pelayan kaum mereka. Jadi kalian semua harus siap melayani,” imbuhnya.

Dari sisi pelaporan, Mardani menjelaskan bahwa pertarungan politik di masyarakat sudah cukup keras. Ia mencontohkan beberapa praktek politik uang menjelang pilkada putaran pertama lalu.

Oleh karena itu, Mardani meminta agar seluruh Tim Advokasi dapat melibatkan masyarakat untuk turut mengawasi dan melaporkan kecurangan pilkada putaran kedua. Dengan demikian, kader dapat fokus memenangkan Anies-Sandi.

“Dan cara yang paling efektif adalah jangan gunakan kekuatan kader untuk mengawasi wilayah mereka. Pastikan publik, masyarakat lah yang mengawasi mereka,” jelas dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta ini.

Terakhir, dalam menindaklanjuti laporan, Mardani meminta Tim Advokasi untuk tidak bertindak seolah seperti yang serba bisa. Tim harus dapat memberikan pendidikan politik, khususnya persoalan pemilu kepada para kader.

“Ajari para kader untuk menyelesaikan masalah di tempat. Ini aturan mainnya, ini jalan keluarnya. Kalau sudah mentok, baru bilang saya. Kalau sudah mentok, baru kita minta tim dari Dpra datang. Jadi pemimpin mampu memberdayakan,” tutupnya. (Us)