Penarikan Dubes Belanda dan Brasil Hanya Gertak Sambal

by Humas PKS Jakarta

Ancaman Belanda dan Brasil menarik Duta Besar mereka di Indonesia, menyusul dilaksanakannya eksekusi hukuman mati terhadap warga kedua negara, diyakini hanya gertak sambal. Untuk itu, Presiden Joko Widodo tak perlu gentar dengan ancaman tersebut.

“Ini cuma Gertak sambal. Tarik saja (Dubes Belanda dan Brasil),” kata Pengamat Tata Negara, Margarito Khamis, seusai menjadi pembicara dalam diskusi ’Lewat Budi Gunawan, KPK Ganggu Hak Preogratif Presiden?’ yang digelar Aktual Forum, di Jakarta, Minggu (18/1).

Menurut Margarito, Indonesia harus berdaulat penuh, termasuk dalam menjalankan konstitusinya. Apalagi, kedua negara tidak merasakan dampak langsung dari peredaran narkoba yang masif seperti di Indonesia.

“Tarik saja (dubes mereka). Belanda sudah menjajah kita 350 tahun. Tidak apa-apa. Lupakan Belanda itu,” tegasnya.

Margarito menyatakan, sebagai negara besar, Indonesia masih dibutuhkan dunia internasional, termasuk oleh Belanda dan Brasil. Margarito pun meyakini, kedua negara itu akan kembali menempatkan duta besar mereka di Indonesia.

“Nanti juga kembali lagi,” ungkapnya.

Hal senada dikatakan anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Jamil yang menyatakan, kedua negara harus menghormati keputusan hukum yang ada di Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak pernah mencampuri persoalan hukum di negara lain.

“Indonesia harus berdaulat, harus hormati keputusan hukum, silahkan saja mereka protes, tapi tolong hormati. Kita enggak pernah campuri urusan hukum di negara orang,” katanya.

Menurut Nasir, hukuman mati memang isu yang universal. Namun, kedua negara seharusnya paham bahwa Indonesia dihadapi dengan persoalan narkoba yang semakin merusak bangsa ini.

“Kita yang tahu kondisi dan akibat narkoba. Apa rakyat belanda merasakannya?” tegasnya.

Diberitakan, eksekusi mati yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap enam terpidana kasus narkoba, lima di antaranya warga negara asing, menimbulkan badai diplomatik. Pemerintah Brasil dan Belanda, yang warganya di antara mereka yang dieksekusi itu, mengutuk pembunuhan dan menarik duta besar mereka dari Indonesia sebagai reaksi dari kejadian itu. Selain warga Belanda dan Brasil, empat terpidana lainnya yang dieksekusi mati yakni warga Malawi, Nigeria dan Vietnam serta seorang warga Indonesia.

Presiden Brasil Dilma Rousseff mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan kemarahan terkait eksekusi warganya Marco Arche Cardoso Moeira. Dia mengatakan kejadian itu “sangat mempengaruhi” hubungan dua negara.

Dia juga menyatakan simpatinya kepada keluarga Moreira. Pernyataan itu menyebutkan, Rousseff “sangat menyesalkan” permohonan banding grasinya, termasuk lewat telepon, telah diabaikan Presiden Joko Widodo dengan melanjutkan eksekusi tersebut.

Moreira (53) yang membawa 13 kilogram kokain ditangkap di bandara di Jakarta pada 2003. Pejabat Brasil mengemukakan, Moreira merupakan warga Brasil pertama yang dieksekusi di luar negeri. Kini Brasil tengah melobi pemerintah Indonesia atas warga Brasil lainnya Rodrigo Gularte yang juga menghadapi eksekusi mati.

Sementara itu, pemerintah Belanda juga mengutuk eksekusi terhadap warganya Ang Kiem Soei. Menteri Luar Negeri Belanda Bert Koenders menamai hukuman itu “tragis”. Raja Belanda Willem-Alexander dan Perdana Menteri Mark Rutte telah membuat tawaran kepada Presiden Joko Widodo soal ini. Permasalahan tersebut juga telah dibahas berulang antara dua negara dalam beberapa tahun terakhir ini. [F-5/N-6]

Sumber : http://sp.beritasatu.com/home/penarikan-dubes-belanda-dan-brasil-hanya-gertak-sambal/75334

Related Posts