Menjadikan Al Qur’an sebagai Sahabat

SHOHIBUL QUR’AN
——————–
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Rasulullah ﷺ bersabda :

« اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه »

“Bacalah oleh kalian Al Qur’an. Karena ia (Al Qur’an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.”
(HR. Muslim).

Penjelasan :
————

Point Ketiga

Setelah kita berusaha menjadi pembaca Al Qur’an yang baik dan benar, maka akan tumbuhlah keimanan diri kita terhadap Hari Akhirat, hingga gambaran Suasana Akhirat benar-benar terasa atau visualisasi dalam diri kita.

Kemudian apa langkah setelah itu ?

Jadilah pembaca Al Qur’an hingga kita merasakan adanya jalinan persahabatan yang erat dengan Al Qur’an.

Orang yang telah merasakan kedekatan bersama Al Qur’an hingga terjalin persahabatan antara dirinya dengan Al Qur’an, Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai Shohibul Qur’an.
Sebagaimana disebut oleh hadits diatas dalam bentuk jama’ istilahnya adalah
Ash-habul Qur’an.

Agar Al Qur’an pada Hari Kiamat memberi Syafa’at kepada kepada kita maka seharusnya kita mempersiapkan diri bagaimana agar layak mendapatkan Syafa’at tersebut. Bagaimana kita agar menjadi Shohibul Qur’an.

Apa kriteria menjadi Shohibul Qur’an ?

Pertama:
Menjadi pembaca Al Qur’an yang baik dan benar dan membacanya secara rutin, bahkan berazam akan selalu membaca Al Qur’an sepanjang hayat. Berusahalah membaca Al Qur’an minimal setiap bulan 1 kali khatam 30 Juz.

Pembaca tahunan apa lagi hanya sesekali saja, saat keluarga meninggal bukanlah Shohibul Qur’an.

Kedua
Menjadi pembaca Al Qur’an yang akrab dengan Al Qur’an, baik secara lahir, yakni selalu dekat dengan mushaf Qur’an, maupun secara bathin, yakni semakin mengimani dan selalu berusaha menerapkan seluruh ajarannya.

Dengan mengakrabi Al Qur’an, kita akan banyak mengetahui tentang seluk beluk Al Qur’an. Minimal tahu nama-nama suratnya, sampai faham semua isinya dan seterusnya.

Bagi yang masih awam terhadap Al Qur’an, sudah seharusnya memiliki tekad untuk belajar mengenali Al Qur’an dari semua sisi-sisinya agar Allah ﷻ tetap menerimanya sebagai Shohibul Qur’an.

Selama Allah ﷻ melihat seseorang terus berusaha tanpa henti mengenali kitab suciNya, insyaAllah ‘amal tersebut sudah menjadi catatan disisiNya. Sehingga layaklah ia berharap, Allah ﷻ memasukkan dirinya sebagai Shohibul Qur’an.

Ketiga
Menjadi pembaca Al Qur’an yang akrab dengan isi Al Qur’an, sehingga memiliki kecenderungan dan semangat untuk menerapkan isi Al Qur’an dalam realita kehidupannya.
Bisa dikatakan bahwa citra dirinya adalah isi Al Qur’an.

Memiliki image – citra diri Qur’ani memerlukan perjuangan ekstra dalam melakukan pendekatan dengan Al Qur’an.

Upaya pendekatan harus dilakukan secara intensive sehingga terbangun kemampuan memahami & kemauan mengamalkan, sehingga melekatlah pada dirinya image pribadi Qur’ani karena ia konsisten dalam menerapkan isi Al Qur’an dalam realita kehidupannya.

Begitulah jawaban Aisyah saat ditanya, bagaimana prilaku Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari ?

Adalah akhlaq Rasulullah ﷺ semua yang ada di dalam isi dari Al Qur’an.
مَاشَآءَاللّهُ

Semoga paparan diatas memberi pencerahan kepada kita semua sehingga muncul rasa optimisme bukan pesimisme untuk meraih predikat sebagai Shohibul Qur’an.

Dan Allah ﷻ hanya akan membantu hambaNya yang selalu memiliki mental optimis untuk menjadi Shohibul Qur’an.

Majlis Qur’ani rohimakumullah…

Mungkin sering terlintas dalam benak kita, betapa beratnya menjadi Shohibul Qur’an itu.
Ya betul…
Memang berat.

Karena targetnya adalah Syurga Allah ﷻ. Dan Syurga tersebut adalah Syurga Firdaus. Syurga Allah ﷻ yang tertinggi, yang tidak mungkin didapat jika dengan santai-santai dan upaya yang ringan.

Marilah kita terus bersemangat untuk mendapatkan tiket memasuki Syurga Firdaus dengan gigih, mulailah bertekad meniti proses kedekatan dengan Al Qur’an step by step.

Dari proses interaksi (pendekatan) tersebut insyaAllah akan membuahkan kemantaban keimanan terhadap Al Qur’an.

Kemudian menjadikan Al Qur’an sebagai Pedoman yang akan selalu mewarnai kehidupan kita.

Dan pada gilirannya, kita berharap Allahﷻ masukkan diri kita sebagai Shohibul Qur’an.

Al Qur’an tidak hanya memiliki fungsi sebagai petunjuk manusia dalam skala pribadi, tetapi Al Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia yang ada dibumi ini, dan meliputi semua aspek kehidupan, bahkan termasuk alam semesta.

Dan Shohibul Quran lah yang akan siap menyerap petunjuk Al Qur’an serta menerapkan isinya.

Jangan meremehkan sekecil apapun andil dan upaya yang kita lakukan dalam niat mewarnai dunia dengan Al Qur’an, hingga terwujudnya peradaban Qur’ani diatas bumi Allah.
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب