Memaknai Rizki dalam Perspektif AL QUR’AN

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

 

Rizki di dalam Al Qur’an dibagi menjadi dua, yakni ;

Rizki dunia &
Rizki akhirat.

Rizki dunia dibagi menjadi 3 :
1. Rizki yang sudah dijamin oleh Allah ﷻ . Sebagaimana disebut dalam firmanNya :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
(QS. Hud : 6)

Kemudian juga dalam ayat berikut :

(وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al Ankabut : 60).

Pada kedua ayat tersebut di atas tergambar penjelasan Allah ﷻ bahwa Dia pemberi rizki semua makhluk hingga binatangpun, dan bahkan Allah ﷻ menyatakan Dia pula yang telah menjamin rizki seluruh makhlukNya, baik binatang maupun manusia.
2. Rizki Muktasab.
Yaitu rizki yang diberikan oleh Allah ﷻ karena manusia telah berusaha untuk mendapatkannya.

(هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ)
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al Mulk 15 )

Ayat di atas perintah dari Allah ﷻ agar manusia berikhtiar mengais Rizki dalam kehidupannya.

Dan Allah ﷻ pula yang akan mencairkan rizki tersebut kepada siapa yang dikehendakiNya, yang besaran jumlahnya sesuai dengan penilaianNya atas ikhtiar (usaha) yang dilakukan oleh masing-masing manusia.

3. Rizki yang diberikan oleh Allah ﷻ tanpa diduga-duga.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS. At Talaq : 3).

Hal ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ sungguh sangat memperhatikan keadaan hamba-hambaNya.

Adapun yang menjadi salah satu sebab diturunkannya rizki yang tiba-tiba itu, selain karena kehendakNya yang mutlak (tanpa sebab selain dari kehendakNya) juga karena Ketaqwaan manusia kepadaNya. Inilah yang harus menjadi motivasi seorang Mukmin jika ingin terjamin rizkinya baik saat ia mengharap ataupun yang Allah ﷻ turunkan secara tiba-tiba.

Sungguh Taqwa adalah sebagai jalan penyebab turunnya cinta Allah kepada seseorang, hingga Dia akan selalu memperhatikan kapan si hamba membutuhkan rizki yang terbaik dariNya.

Demikianlah terkait gambaran rizki yang sebaiknya kita fahami agar tidak terjebak pada presepsi yang salah.

Dan perhatikanlah karakteristik rizki dunia, sesungguhnya ia sangat mudah didapat, karena sudah Allah ﷻ sudah menyatakan berbagai ungkapan jaminanNya, baik kepada hambaNya yang beriman dan bertaqwa kepadaNya maupun yang tidak.

Adapun yang akan membedakan dari rizki yang diterima oleh orang yang beriman dan yang tidak adalah terletak pada nilai keberkahannya. Sehingga perlu difahami bahwa rizki juga memiliki 2 dimensi, yakni :

– rizki dunia yang hanya akan bisa dinikmati sebatas untuk memenuhi kebutuhan duniawi saja.

– rizki ukhrowi (akhirat).
Rizki akhirat adalah rizki yang hanya didapat manusia dari sejak mereka didunia, seperti keimanannya kepada Allah ﷻ, ringannya ia melakukan berbagai amal sholih, dlsb, rizki ini akan dinikmati baik di dunia (berupa kepuasan hati dan sakinah) sedangkan bisa dinikmati pula hingga kelak di akhirat yakni berupa balasan dari Allah ﷻ, yakni berbagai kenikmatan syurgawi yang telah disediakan Allah ﷻ sebagai karunia rizki terbaik bagi hambaNya yang telah benar keimanannya serta yang tidak enggan melakukan amal-amal sholih sebagai ubudiyahnya kepada Allah ﷻ .
Oleh karena itu betapa ruginya manusia jika habis-habisan mengejar rizki dunianya yang hanya terbatas sekali nilai kenikmatannya, sedangkan mereka mengorbankan rizki akhiratnya yang kenikmatannya sangat sempurna dan abadi sifatnya.

Mari kita jadikan pelajaran agar diri kita tidak sampai karena mengejar rizki dunia, kita lupakan bahkan kita remehkan rizki akhirat sehingga kelak kita menjadi manusia yang sangat miskin rizki akhirat yang sangat tinggi harganya.

Dan yang perlu menjadi catatan penting adalah:

Bahwa setiap rizki dunia hanya akan memiliki nilai kemuliaan JIKA diniatkan sebagai sarana atau alat untuk meraih rizki akhirat.
Jadi karena bab rizqi ini sudah sedemikian dimudahkan oleh Allah. Maka harus dijaga, jangan sampai menjerumuskan manusia, dalam 2 kerugian besar ;
1. Jangan sampai karena rizqi melupakan Allah yang Maha Pemberi rzqi, sehingga menjadi syirik kepadaNya karena rizqi.
2. Jangan sampai karena asyik mencari rizqi lupa akhirat. Akhirnya menjadi penghuni neraka.
(إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ)

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (Al Ankabut 17 )

(وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ * أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ)
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.
Maka apakah kamu tidak memahaminya?
Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya
suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

📝 : Ustadz Abdul Aziz Abdur Ra’uf, Lc
حفظه الله تعالى