Jualan Tomat Ala PKS

by Humas PKS Jakarta

Ada kesibukan lain di Kantor Dewa Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DKI  Jakarta, Kamis (27/8). Empat orang nampak sibuk menurunkan puluhan peti berisi tomat dari sebuah truk. Nasrullah, salah seorang anggota DPRD DKI Jakarta nampak sesekali ikut membantu mengangkat peti dan menumpuknya di halaman kantor PKS Jakarta, yang terletak di Jalan R. Soeprapto, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Tidak kurang dari enam ton tomat diturunkan hari itu. Tomat itu berasal dari sentra produksi tomat di Purbalingga, Jawa Tengah.

PKS jualan tomat? “Ya, kita ingin bantu petani tomat yang sekarang sedang menderita karena harga tomat jatuh,” kata Ihsan Fadila, Humas PKS Jakarta.

 

Nasrullah, anggota DPRD DKI Jakarta ikut menurunkan tomat dari truk. Foto: PKS Jakarta

Menurut Ihsan, PKS Jakarta ikut bergabung dalam gerakan beli tomat lokal langsung dari petani. PKS ikut memasarkan tomat-tomat tersebut kepada kader, simpatisan, dan masyarakat umum melaui program Save Petani Tomat  dan kampanye di media sosial dengan tagar #1Person1Kilo. Pesan singkat melalui beragam media seperti SMS, Blackberry, juga WhatsApp digunakan untuk memasarkan tomat.

Hasilnya lumayan. Di Kelurahan Kampung Tengah, KramatJati, Jakarta Timur misalnya, kader PKS yang berpartisipasi dalam gerakan ini membeli antara dua sampai15 kg tomat. Penjualan dikoordinir pengurus Dewan Pimpinan Ranting (DPRa) PKS setempat.

Yang membeli dalam jumlah kecil dipakai untuk keperluan rumah tangganya sediri. Sementara yang membeli dalam jumlah besar dibagi-bagikan kepada para tetangga.

Menurut Nashihin, yang didapuk sebagai koordinator distribusi tomat di Kelurahan Tengah, Jaktim, ia mendapat jatah dua peti dengan volume 110 kg tomat. Dalam dua hari semuanya sudah ludes terjual.

Hal serupa juga dilakukan pengurus DPRa PKS lainnya di seluruh Jakarta. Dan ini terbukti efektif. Dalam tempo dua hari enam ton tomat sudah terdistribusi ke DPRa-DPRa PKS di Jakarta. “ Sudah habis. Kita sisakan sedikit untuk jualan di acara CFD,” kata Ihsan.

Rencananya, DPW PKS Jakarta akan buka lapak tomat di acara car free day  (CFD) di kawasan Hotel Indonesia (HI), Jakarta pada Minggu, 30 Agustus 2015. Namun acara ini terkendala perijinan. Rupanya untuk berdagang di acara CFD harus mengantongi ijin dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

“Untuk beroleh ijin ini ternyata sulit. Kita sudah minta ijin pihak Polda, mereka juga tidak berani keluarkan ijin. Kita jualan sedikit saja,” terang Ihsan.

Mengenai kualitas tomat yang dijual adalah tomat pilihan yang bisa bertahan hingga lima hari dalam suhu ruangan. Jika dimasukan ke lemari pendingin bisa lebih tahan lama lagi. Para petani memetik tomat tersebut langsung dari kebun saat masih berwarna kuning.

Selain menjual tomat dalam paket kiloan, pada acara CFD itu juga akan dijajakan hasil olahan tomat, seperti  jus tomat, saus tomat, serta manisan tomat.

Oh ya, harga tomat yang dijual mengikuti harga pasar, yakni Rp 5.000/kg. Sejumlah Rp 4.000 dari penjualan untuk petani, dan Rp 1.000 untuk biaya distribusi.

Ini sangat menolong para petani. Betapa tidak, saat ini harga

tomat di tingkat petani hanya Rp 300/kg untuk tomat sayur dan Rp 1.700/kg untuk tomat buah.

Menurut Nasrullah, yang kini anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, pemerintah harus turun tangan menata tata niaga produk pertanian. Rantai distribusi perlu diperbaiki agar tidak terlalu panjang.

“Kasus tomat ini jadi pelajaran. Produksi melimpah, harga di pasaran masih tinggi, tetapi kenapa di petani harganya anjlok,” katanya.

Dengan tingkat harga hanya Rp 300/kg untuk tomat sayur dan Rp 1.700 untuk tomat buah,  petani jelas sangat merugi karena jauh di bawah harga produksi. Tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan petani untuk pengolahan lahan, bibit, pemumpukan, dan biaya panen.

Guna menekan kerugian lebih banyak di sejumlah sentra tomat ada petani yang melakukan tindakan ekstrim dengan membuang tomat hasil panennya ke jalan.

Berangkat dari keprihatinan akan nasib petani tomat inilah PKS membuat gerakan Save Petani Tomat. Sangat boleh jadi gerakan ini belum dapat menyelesaikan persoalan petani tomat secara keseluruhan.

Ada ribuan bahkan jutaan ton tomat hasil panen petani yang perlu diselamatkan. Sementara yang dilakukan PKS hanyalah langkah penyelamatan kecil.

Namun sebagai sebuah upaya gerakan ini patut mendapat apresiasi karena menunjukkan kepedulian dan keberpihakan terhadap nasib petani kecil.

Upaya ini sejalan tema Munas IV PKS yang akan digelar 14-15 September 2015 di Depok, yakni Berkhidmat untuk Rakyat.

Jika langkah kecil PKS ini diikuti oleh partai-partai lain, atau elemen masyarakat lainnya, sungguh akan menjadi sumbangsih yang besar bagi peningkatan kesejahteraan petani, yang merupakan mata pencaharian mayoritas penduduk negeri tercinta ini. (HAS)

Sumber : http://tajuk.co/news/jualan-tomat-ala-pks

Related Posts