Fraksi PKS Dukung Rencana Gubernur Bangun Shelter Kampung Akuarium

Jakarta (5/11) – Rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menyediakan tempat penampungan sementara (shelter) bagi warga korban gusuran di kampung akuarium, mendapatkan dukungan dari Partai Keadilan Sejahtera. Hal ini disampaikan oleh Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi.

Pria yang akrab dipanggil Suhaimi ini menyampaikan bahwa PKS akan mendukung langkah Gubernur DKI Jakarta dalam menyediakan shelter agar masyarakat yang menjadi korban gusuran dapat tinggal dengan layak.

“Kami dukung penuh selama tujuannya adalah untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Suhaimi di Jakarta, Minggu (5/11).

Suhaimi menambahkan bahwa pembenahan pesisir harus menyertakan konsep peningkatan kehidupan bagi warga pesisir itu sendiri.

“Shelter itu perlu untuk jangka pendek karena sifatnya hanya sementara. Yang tidak kalah penting juga adalah bagaimana menata pesisir Jakarta agar penataan ini dapat menghadirkan kesejahteraan bagi warga pesisir itu sendiri,” papar wakil rakyat dari daerah pemilihan Jakarta Timur ini.

Selain itu, Suhaimi juga mengungkapkan bahwa penataan pesisir Jakarta sebagai gerbang Ibukota memiliki potensi besar. Hal itu dapat berjalan jika dikelola berbasiskan ekonomi kemasyarakatan, sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang layak bagi masyarakat pesisir. Bukan hanya dari sektor perikanan tapi juga sektor pariwisata.

“Pesisir Jakarta sebagai gerbang Ibukota punya potensi yang sangat besar. Hal ini apabila dikelola dengan baik dapat menciptakan kehidupan yang layak bahkan bisa menjadi salah satu sumber devisa negara. Oleh karena itu diperlukan sebuah grand design dalam menata kehidupan masyarakat pesisir,” pungkas Suhaimi.

Diketahui, Gubernur Anies berencana membangun shelter bagi warga yang terkena gusuran di Kampung Akuarium dan Kampung Kunir (Pinangsia) sejak 16 April 2016 silam. Hal itu disampaikan Gubernur Anies saat dengar pendapat dari Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (1/11).

Selama ini, warga di dua kampung tersebut mensiasati tempat tinggal dengan membangun bedeng yang tidak sehat di atas puing-puing pemukiman. Dampaknya, tercatat sudah lebih dari 20 orang meninggal selama 1,5 tahun karena gangguan kesehatan. (can/bud/fpksjakarta)