Di Hadapan Para Jawara Betawi, MTZ Paparkan Cara Angkat Budaya Betawi

by Humas PKS Jakarta

Jakarta – Para Jawara Betawi di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, sedang bersukacita. Jumat sore (26/3/2021), Padepokan Bedok Latih menggelar tasyakuran karena pusaka Golok Cakung yang selama ini mereka jaga, telah dibuktikan oleh Balai Konservasi Candi Borobudur berbahan dasar meteor dan berusia paling muda empat ratus tahun.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta yang membidangi kebudayaan dan pariwisata, sekaligus Wakil Ketua Fraksi PKS M Taufik Zoelkifli yang akrab disapa MTZ ini hadir memberikan sambutannya.

“Budaya Betawi harus bisa sejajar dengan budaya lain. Saya senang Golok Cakung sudah terbukti. Berikutnya, tinggal kita wujudkan lagi, mau membangun apa kita setelah ini,” kata MTZ.

“Sesuai dengan jiwa pelaksanaan Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi, pelestarian ini bertujuan untuk meningkatkan kesinambungan usaha pengelolaan, penelitian, peningkatan mutu, penyebarluasan kesenian, peningkatan daya cipta dan daya penampilan, serta peningkatan apresiasi kesenian Betawi,” urai MTZ lagi.

Dalam acara ini, hadir juga Kepala Suku Dinas Pariwisata Jakarta Timur, Rus Suharto. Beliau menjelaskan bagaimana teknis membangun daerah Cakung sebagai tempat wisata dengan Golok Cakung sebagai daya tarik utama.

“Ketika kita lihat pelestarian kesenian samurai (katana) di Jepang, bahkan untuk sekadar melihat proses pembuatan katananya saja kita membayar di sana. Di Cakung ini, kita bangun sentra pembuatan golok. Baik sebagai atraksi, maupun  sebagai souvenir,” jelasnya.

“Lebih dari itu, sebetulnya kita juga harus angkat nilai dan kisah di baliknya. Itulah penyebab orang mau datang. Apa yang jadi kisah latar belakang golok ini? Dulunya, golok ini dibuat untuk kepentingan apa? Itulah kenapa orang tertarik dengan kesenian ini, seperti di negara-negara lain yang menjadikan senjata sebagai daya tarik wisata,” paparnya lagi.

Rus menekankan, orang tertarik dengan ragam senjata lain seperti keris, mandau, kujang, itu semua karena ada upaya rekayasa isu dan pemberitaan yang masif. Ditambah lagi, para peminatnya sudah memiliki suatu persepsi berdasarkan kisah legenda yang mengiringi senjata-senjata itu.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur Hasanuddin, yang sejak mula mengawal kesenian Golok Cakung hingga ke Balai Konservasi Candi Borobudur, juga tampak antusias dalam tasyakuran ini.

“Perjalanan yang kita lakukan ke Magelang untuk menguji kandungan ini benar-benar istimewa. Sebenarnya, hal ini bisa dilakukan di Jakarta. Tetapi para ahli yang ada di Jakarta sedang berada di luar negeri melanjutkan studi. Akhirnya, untuk mempercepat, kita bawa ke Magelang,” jelas Hasanuddin.

“Hasilnya, Alhamdulillah, dari sebelas bilah yang kami bawa, tujuh di antaranya mengandung batu meteor. Tetapi, golok lainnya tetap sama pentingnya. Nah, sekarang kita tinggal mengemas nilai golok cakung ini. Golok ini, dilihat dari bentuknya, dibuat di abad ke-11 hingga abad ke-17,” urainya lagi.

“Tapi ini semua belum selesai,” tegas Hasanuddin.

“Kami akan panggil lagi Ustadz Agus Syahadat dan Suhu Jaja, untuk memberikan penjelasan terkait apa yang diperlukan oleh tim ahli cagar budaya untuk membuat Golok Cakung ini menjadi warisan budaya dan benda cagar budaya,” tandasnya.

Dalam acara tasyakuran ini pula, MTZ sebagai Anggota Legislatif dari Fraksi PKS sekilas menyinggung regulasi berupa Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.

Menurut pasal Pasal 2 dalam perda tersebut, tujuan lebih lanjut pelestarian ini adalah memelihara dan mengembangkan nilai-nilai tradisi Betawi yang merupakan jatidiri dan sebagai perlambang kebanggaan masyarakat Betawi dalam masyarakat yang multikultural; serta meningkatkan pemahaman kesadaran masyarakat terhadap kebudayaan Betawi.

Dalam tasyakuran ini, para Jawara Betawi dari Padepokan Bedok Latih, Sanggar Seni Budaya Cipinang, Jawara Betawi 411, Padepokan Silat Jalak Banten, Padepokan Silat Macan Kumbang, dan lain sebagainya, hadir mengikuti acara.

Related Posts