Bangsa Ini Sedang Krisis Kepahlawanan

Oleh Hafidz Muftisany

Surabaya berdiri menjadi benteng Republik yang kokoh. Usia kemerdekaan yang belum jua berumur dua bulan terus dirongrong aliansi sekutu. Arek-arek Suroboyo -dan juga seluruh pejuang di Indonesia- menunjukkan makna cinta Tanah Air dan membela NKRI dalam wujud yang sebenarnya. Berjuang, mengangkat senjata, hingga titik darah penghabisan. Benar-benar rela mati. Tak hanya slogan pembela NKRI.

Rangkaian perlawanan di Surabaya dan Republik semakin menggelora dengan keluarnya Resolusi Jihad oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Seperti dinukil dari situs resmi PBNU, Kiai Hasyim mengeluarkan maklumat, “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Ulama dan santri bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta para pejuang semakin kukuh semangatnya untuk melawan kembali kolonialisme. Hingga salah satu puncak perjuangan yang paling dikenang dalam sejarah Republik dan juga sejarah dunia ada peristiwa 10 November. Ada pekik takbir membahana. Ada semangat yang meletup demi menjaga kemerdekaan yang amat mahal harganya.

Tak ada salahnya kembali menoleh ke belakang (masa lalu) demi menghidupkan kembali ruh perjuangan. Seperti setiap 10 November kali ini. Kita bersyukur negara menjadikan momentum 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Agar seminimalnya kita paham jika ada pengorbanan -hingga nyawa- untuk mempertahankan nikmat kemerdekaan ini. Syukur-syukur kita terhenyak. Sebab, ternyata setelah 72 tahun kemerdekaan itu hadir, kita masih terlalu ragu untuk berkorban.

Tentu, tidak ada yang salah dengan kewajiban memenuhi kebutuhan pribadi. Meski sejatinya, bersamaan dengan kewajiban pribadi itu terkandung pula kewajiban untuk membantu orang lain. Saya tentu tak akan berceramah tentang manusia adalah makhluk sosial. Tetapi, kita hanya perlu mengingat saja. Betapa kesetiakawanan sosial -begitu pelajaran di era Orde Baru menyebutnya- kita nampaknya sedang menuju krisis.

Alih-alih pengorbanan, yang kita kobarkan justru perlawanan. Celakanya, yang semangat sekali kita lawan adalah sesama anak bangsa. Asal berbeda pendapat atau junjungan, sudah sah menjadi ‘musuh’ yang harus ‘diperangi’. 7 hari, 24 jam di ‘medan laga’ baru bernama media sosial. Tak jarang letupan kebencian itu mewabah menjadi friksi nyata di lapangan. Mirisnya lagi-lagi dengan sesama anak bangsa. Nampaknya kita harus memikirkan ulang tentang sebentuk pengorbanan yang seharusnya.

Kepahlawanan 72 tahun lalu, menemukan momentumnya dengan perlawanan senjata. Tentu, sekali lagi bukan demi diri para pejuang sendiri. Kini, kepahlawanan menemukan bentuknya dalam banyak hal. Sebagai entitas bangsa, PKS pada Munas 2015 telah mendeklarasikan diri gerakan berkhidmat untuk rakyat. Bagi PKS, pengorbanan yang harus banyak dilakukan hari ini adalah membantu sebanyak-banyaknya apapun saja kebutuhan rakyat.

PKS dengan segala ikhtiarnya yang masih sederhana, mencoba melayani, berkhidmat kepada anak-anak muda, perempuan, pelaku ekonomi, buruh, petani dan nelayan, entitas umat, penjaga lingkungan, budayawan, pahlawan di gelanggang olahraga dan siapa saja anak bangsa tanpa memandang latar belakangnya.

Tentu PKS tidak akan pernah bisa membangun negeri ini sendirian. Bangsa yang besar ini harus ditopang bersama-sama dengan seluruh penghuninya. Kita mesti berbenah. Betul-betul berbenah. Utamanya dalam semangat berkorban untuk pihak lain. Jika tidak, Hari Pahlawan tahun depan, tulisan ini masih relevan untuk dinikmati.

Terakhir, kami sampaikan penghormatan yang sebesar-besarnya bagi keluarga dan masyarakat atas dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Riayat Syah dan Lafran Pane.

Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kali ini cukup spesial. Bukti jika Islam sama sekali tidak relevan disebut pengganggu nasionalisme. Selamat berkorban para pahlawan!